Indeks Literasi Keuangan Syariah Berdasarkan Survey OJK

Indeks Literasi Keuangan Syariah Berdasarkan Survey OJK

Sebagai salah satu lembaga yang diamanati untuk untuk mengatur dan mengawasi industri jasa keuangan sekaligus melindungi kepentingan masyarakat, OJK melakukan beberapa strategi dalam implementasinya. Salah satu hal yang dilakukan adalah menyusun strategi pengembangan.

Salah satu hal yang perlu dikembangkan oleh OJK adalah perihal literasi keuangan dan inklusi keuangan. Sebagai upaya untuk mendapatkan bahan pertimbangan untuk menyusun strategi yang tepat, OJK kemudian melakukan survey nasional untuk mengetahui sudah sejauh mana inklusifitas dan literasi keuangan masyarakat khususnya pada keuangan syariah yang masih cenderung stagnan.

Diketahui bahwa  marketshare perbankann syariah hanya baru sekitar 3 persen saja. Hal itu ternyata beriringan dengan masih rendahnya inklusi dan literasi masyarakat mengenai perbankan syariah. Oleh karenanya, OJK dan industri jasa keuangan  terus berupaya untuk melakukan peningkatan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat Indonesia.

Literasi Keuangan Secara Umum
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh OJK beberapa waktu lalu, didapatkan hasil bahwa indeks literasi keuangan: 21.84% sedangkan indeks inklusi keuangan: 59.74%. Ini berlaku secara umum untuk semua perbankan dan jasa keuangan yang ada di indonesia.

Pada tahun 2013, literasi keuangan sebesar 21,84 % sedangkan pada tahun 2016 cuma naik sedikit yakni hanya 29,66%. Sementara itu literasi berdasarkan provinsi, paling besar ada di DKI jakarta yang tingkat literasinya mencapai 40% dan paling rendah ada di Papu Barat yang hanya 19 % saja.

Sementara itu dari lintas sektoral, literasi paling banyak memang dari dunia perbankan yang mana literasinya mencapai 29,66%, kemudian disusul oleh BPJS kesehatan yang mencapai 28,29%, sementara yang paling rendah adalah pasar modal yang hanya  4% saja.

Literasi Keuangan Syariah
Sementara untuk literasi mengenai keuangan syariah, itu nilainya sangat kecil sekali. Bahkan sangat jauh beda dari keuangan konvensional. Mungkin karena minat masyarakat pada bank syariah ini belum begitu banyak. Hal itu bisa dilihat dari perkembangan marketsharenya yang memang masih sangat kecil yakni sekedar 5 persen saja.

Berdasarkan data diketahui bahwa indeks inklusi keuangan syariah tercatat hanya baru 11,1% saja. Kenapa bisa seperti itu? Indikator utama adalah karena memang indeks marketshare baru 5 %, selain itu menurut Kepala Departemen Literasi dan Iklusi OJK,Sondang Martha Samosir; rendahnya literasi keuangan syariah itu secara umum disebabkan karena mayoritas masyarakat masih tertarik dan fokus pada tujuan keuangan jangka pendek, belum ke jangka panjang.

Strategi Pengembangan Indeks Literasi Keuangan
Nah ini merupakan tugas semua pihak untuk kemudian meningkatkan kembali minat masyarakat agar literasinya juga meningkat. Dengan kata lain, dibutuhkan yang namanya edukasi dari semua kalangan termasuk akademisi untuk mengenalkan sistem keuangan syariah kepada masyarakat.

Dalam hal ini, dibutuhkan yang namanya strategi. Strategi bisa dari segi kebijakan atau policy, bisa juga dari strategi marketing yang dilakukan oleh pihak bank itu sendiri. Selama ini banyak diantara bank yang hanya sekedar menunggu nasabah datang saja. Padahal masalah utama selama ini adalah dimana nasabah males buat datang ke bank, apalagi harus antri. Nah seharusnya pihak bank atau perusahaan keuangan bisa menyadari itu dan coba untuk menjemput bola.

Selama ini yang disalahkan dalam lemahnya marketshare dan pertumbuhan keuangan syariah adalah dari pihak umat yang gak mau nabung, padahal salah sendiri pihak bank gak mau melakukan inovasi dalam mempromosikan produknya sehingga banyak orang mau menggunakan jasa keuangan syariah itu.

Share

Belum ada Komentar untuk "Indeks Literasi Keuangan Syariah Berdasarkan Survey OJK"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel