Sistem Pengelolaan Risiko dalam Asuransi Syariah

Sistem Pengelolaan Risiko dalam Asuransi Syariah
Jika sebelumnya kita membahas tentang sistem pengelolaan dana, kini kita akan bahas tentang sistem pengelolaan risiko dalam asuransi syariah. Sistem pengelolaan resiko ini menjadi bagian penting yang harus dijadikan fokus pembahasan terutama untuk memahami apa yang menjadi perbedaan dalam pengelolaan asuransi konvensional dan syariah. Apa kelebihan dari pengelolaan resiko di asuransi syariah ini jika dibandingkan dengan asuransi konvensional? Pertanyan-pertanyaan seperti itu yang kiranya akan sangat penting sekali untuk ditemukan jawabannya oleh anda dan siapa saja yang akan memilih asuransi berbasis syariah itu.

Perbedaan Mendasar Pengelolaan Risiko Konvensional dan Syariah..

Pertama-tama kita bahas secara mendasar yakni tentang konsep atau sistem pengelolaan risiko dalam asuransi syariah. Ada perbedaan dasar disini yang sebetulnya itu menjadi pembeda utama antara kedua jenis asuransi tersebut. secara lebih detail akan dibedakan dengan dua prinsip dan konsep pengelolaan resiko sebetulnya yakni;

Transfer of Risk (Konvensional)
Dalam asuransi konvensional, konsep atau prinsip yang digunakan adalah transfer of risk atau memindahkan resiko. Ada dua pihak yang terlibat yakni pertama, peserta asuransi atau biasa disebut dengan pihak tertanggung dan kedua, pihak perusahaan atau biasa disebut penanggung. Jadi transfer risiko yang dimaksud disini adalah adanya pemindahan risiko dari tertanggung ke penanggung. Dengan membayar premi kepada penanggung (perusahaan), maka tertanggung (peserta) akan dijamin jika terjadi sesuatu resiko di masa yang akan datang sesuai dengan waktu yang ditentukan. Namun terkadang jika  tak ada klaim dari tertanggung dalam jangka waktu yang ditentukan, maka uang yang sudah disetor penanggung akan sepenuhnya jadi milik penanggung. Atau bisa dikatakan bahwa dana penanggung yang disetor dalam premi, itu hangus. 

Sharing of Risk (Syariah)
Berbeda dengan asuransi konvensional, dalam asuransi syariah pengelolaan risikonya menggunakan prinsip sharing of risk atau berbagi resiko. Hal ini karena prinsip dasar yang digunakan dalam asuransi syariah adalah saling membantu, tolong menolong dan saling menanggung. Prinsip ini diambil karena konsep asuransi dalam konvensional dianggap tidak adil apalagi ada istilah dana hangus yang tentunya merugikan salah satu pihak yakni yang jadi tertanggung atau peserta. Kemudian dana yang digunakan untuk memberikan santunan pada yang mengalami musibah, itu didapat dari dana khusus yakni dana tabaru yang dibagi dari premi yang disetor. Dana tabarru adalah dana kemaslahatan yang disetor dengan tujuan untuk membantu. Pihak perusahaan dalam asuransi syariah bukan penanggung melainkan hanya jadi perantara saja.

Proses Sharing of Risk dalam Asuransi Syariah

Siapa saja yang sudah memutuskan untuk bergabung dengan salah satu perusahaan asuransi syariah dan disetujui kepersertaannya, maka dia akan menjadi keluarga besar dengan peserta lain. Pada awal pendaftaran, pihak peserta akan melakukan akad dengan pihak perusahaan dan kepada para peserta lain untuk saling ber-taawun, saling membantu dan tolong menolong kepada peserta lain untuk risiko tertentu di masa depan. Dana tolong menolong itu akan masuk pada rekening dana tabarru. Agar dana tersebut cukup untuk memberikan santunan kepada peserta yang mengalami musibah, maka dana itu bisa diinvestasikan untuk bisnis yang syari. Apalabila di akhir kontrak, ternyata dana itu malah surplus atau bertambah besar, maka dana tersebut bisa dibagikan dengan beberapa opsi diantaranya:
  • Dicadangkan kembali ke dana tabarru
  • Dikembalikan kepada peserta sebagiannya
Nah itu adalah sekilas tentang pembahasan bagaimana sistem pengelolaan risiko dalam asuransi syariah. Lebih detail, mungkin akan saya bahas dalam beberapa tulisan selanjutnya di blog ini.. Terima kasih sudah berkunjung..
Share

Belum ada Komentar untuk "Sistem Pengelolaan Risiko dalam Asuransi Syariah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel