Peer to Peer Lending (P2P) Syariah di Indonesia

Peer to Peer Lending (P2P) Syariah di Indonesia
Meski perkembangan dunia financial technologi ini sangat berjalan cepat, namun balancing dan inovasi dari syariah sepertinya terkesan masih lambat. Buktinya di tengah gempuran fintech khususnya peer to peer landing, hanya baru ada dua saja yang dari syariah. Padahal OJK sudah memberikan ijin pada puluhan p2p yang bukan syariah. Entah minat inovasi dari orang-oran syariah masih kurang atau ada kebijakan lain, sepertinya itu menjadi masalah.
Syariah sebaiknya bergerak cepat karena ini berhubungan erat dengan kebutuhan umat. Jangan sampai umat islam digempur dengan lingkaran riba yang tentu sudah jelas diharamkan. Keberadaan fintech p2p yang bukan syariah tentunya menggunakan sistem pengelolaan riba dalam skema bisnisnya. Bagi para pelaku usaha termasuk muslim, tentu mereka harus bisa untuk mengimbangi jaman jika tak ingin ketinggalan. Nah kalau belum ada yang syariah, lalu harus seperti apa? Apakah harus bersabar menunggu atau bagaimana?

Latar Belakang Munculnya P2P Syariah

Ada pertanyaan awal yang sebaiknya coba kita tanyakan yakni tentang apa latar belakang munculnya p2p ini. Sebetulnya p2p ini muncul setelah keberadaan fintech, karena p2p merupakan bagian dari fintech. Pada awalnya pembiayaan dilakukan oleh bank namun pada perjalannya ternyata bank tak mampu mewujudkan prinsif financial inclusion kepada semua yang membutuhkan jasanya khususnya peminjam. Bank biasanya memiliki banyak persyaratan yang sangat ketat bagi siapa saja yang akan mengajukan pembiayaan.

Nah kemudian setelah itu munculah p2p ini. P2p ini bertujuan untuk menyasar kalangan yang tak tersentuh oleh jasa perbankan (unbanked). Selain itu keberadaan teknologi sepertinya dianggap bisa menjadi sarana pinjam meminjam dengan lebih praktis. Nah maka dari itu, keberadaan p2p bertujuan untuk menyasar borrower dari kalangan unbanked yang dipertemukan dengan lender dari capitalist atau yang punya modal. Hanya saja dalam konsep syariah yang membedakan adalah tidak adanya riba dan penggunakan akad secara spesifik.

Prospek P2P Syariah di Indonesia

Berbicara tentang prospek p2p syariah di indonesia, tentu sebetulnya prospeknya sangat besar. Apa faktanya? Berdasarkan data dari asosiasi penyedia jasa internet indonesia (AAPJII) diketahui bahwa setengah dari penduduk indonesia adalah pengguna internet. Kemudian muslim di indonesia juga yang terbesar. Meski ada banyak gempuran dari fintech p2p yang tidak syariah, namun percayalah bahwa masih banyak masyarakat muslim yang ingin terbebas dengan hal –hal yang tak sesuai dengan prinsip syariah.

Peluang untuk fintech syariah indonesia berkembang masih sangat besar dan terbuka luas. Terpenting ada kemauan dari banyak pihak untuk bisa memberikan kontribusi untuk kesejahteraan rakyat. Pendirian fintech syariah tidak hanya untuk tujuan mendapatkan keuntungan namun untuk saling bantu ekonomi saudara muslim lainnya di mana saja dengan prangkat yang sangt mudah dan praktis sekali.

Baru Ada Dua P2P Syariah di Indonesia..

Jika kita coba cek, sebetulnya baru ada dua yang menjalankan p2p dengan komsep syariah. Ini jumlah yang sangat sedikit sekali dibanding kebutuhannya yang sangat banyak yakni memenuhi kebutuhan transaksi untuk seluruh rakyat indonesia. Nah apa saja dua p2p lending tersebut? anda bisa cari langsung di google dengan keyword tersebut, saat ini baru ada dua yakni:
  • Investree.id
  • Mariusaha.co.id
Nah itulah penjelasan singkat tentang kondisi, keadaan dan juga prospek masa depan fintech syariah khususnya p2p syariah yang ada di indonesia. Semoga kedepan bisa lebih banyak lagi dan lebih bisa berperan meningkatkan perekonomian ummat.
Share

Belum ada Komentar untuk "Peer to Peer Lending (P2P) Syariah di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel